Tampilkan postingan dengan label Pemimpin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemimpin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juli 2014

Transkrip Wawancara Prabowo dengan BBC News Plus Terjemahan

0 komentar
Berikut ini adalah transkrip wawancara Calon Presiden Prabowo Subianto dengan Babita Sharma dari BBC News 11 Juli 2014. Wawancara ini jadi menarik karena merupakan kesempatan calon presiden Prabowo Subianto untuk didengar dunia melalui BBC News.
 

Wawancara Prabowo dengan BBC News

Wawancara ini menjabarkan perbandingan gaya politiknya dengan rivalnya, tentang pandangan dia atas kualitas rivalnya dan kualitasnya sendiri, tentang kemungkinan muncul sebagai pemenang dalam pemilihan presiden, dan tentang tentang caranya menyikapi kekalahan.

Transkrip sudah pula saya beri terjemahannya dalam bahasa Indonesia (dalam teks berhuruf miring). Teks yang dicetak tebal mencerminkan berebut bicara antara Prabowo Subianto (PS) dan Babita Sharma (BS), pewawancara BBS News.

Isi transkrip ini bisa kita jadikan bahan pembelajaran politik, komunikasi dan ilmu penerjemahan.

Mungkin ada satu atau dua kata yang terlewat, namun tidak mengurangi esensi hasil wawancara. Selamat membaca.

HASIL TRANSKRIP

PS: All of the real counts that is coming in shows that I’m leading. So I think I’m very confident that I have gotten the mandate of the Indonesian people.

(PS : Semua hasil real count yang sudah masuk menunjukkan saya unggul. Saya yakin saya mendapatkan mandat dari rakyat Indonesia)

BS: A lot of polls that we have been looking at, many are reliable in the past, some representing 2,000 polling stations around the country, I just want to give you an idea what may have told us : Indonesia’s think-tank CSIS has Widodo at 52% yourself at 48; Kompas.com who I know you know well, has the similar Widodo 52% and you have 48, and Saiful Mujani puts Mr Widodo at 52.76% and yourself at 47%. A lot of the people have been looking at the polls and they are saying you are out of the race.

(BS : Dari banyak hasil poll yang kami lihat, mereka ini handal dalam pol-pol sebelumnya, yang mencerminkan hasil pilihan dari 2,000 TPS di seluruh Indonesia, kita mendapatkan data sebaagai berikut : CSIS yang mencatat keunggulan Widodo 52# sementara Anda sendiri 48; Kompas.com yang saya yakin Anda tahu benar, mencatat 52% untuk Widodo and anda 48, dan Saiful Mujani mencatat Pak Widodo 52,76% dan Anda 47%). Banyak orang tahu angka ini dan mereka berpendapat Anda kalah)

P : No…no….no…. It’s completely the other way around. Those institutions that you mentioned, they are all very partisan, they have openly supported Joko Widodo for the last may be one year. And They are actually parts of the Joko Widodo campaign supporters, so they are not completely objective, and I think they are part of this grand design to manipulate perception. Let us rely on the legal institution of Indonesia; there is a general election commission, er….there is a process of counting, real counting coming in; we have witnesses in every errr…. voting stations, and we have voting certificates of the witnesses, which have all the required signatures, so let us go through the due process of counting, verification and let the general election commission decide.

(PS : Tidak…tidak….tidak, itu malah sebaliknya. Lembaga-lembaga yang Anda sebutkan tadi semuanya sangat memihak, mereka nyata-nyata telah mendukung Jojo Widodo selama mungking kurang lebih satu tahun. Dan mereka sebenarnya adalah bagian dari pendukung kampanye Joko Widodo, jadi mereka sangat tidak objektif, dan menurut saya mereka adalah bagian dari desain besar untuk memanipulasi persepsi. Mari kita andalkan lembaga yang sah di Indonesia; ada Komisi Pemilihan Umum, ada proses penghitungan, penghitungan riil yang sedang masuk, kita punya saksi-saksi di TPS, dan kita punya sertifikat pemilihan dari para saksi yang semuanya dilengkapi dengan tandatangan yang diperlukan. Jadi, mari kita ikuti proses penghitungan dan verifikasi dan biarlah KPU yang memutuskan)

BS : Absolutely….you are complete ….

(BS : Begitu ya, Anda sepenuhnya …..)

P S: All this ….this all all.. all yes ….er….all these surveys companies err….yes…..is one moment

(PS : Semua ini…ini semua….semua ya…er semua perusahaan survey ini adalah…..sebentar….)

BS : You are completely correct to say that we should of course wait until the official results come out in ten days time.
(BS : Anda sepenuhnya benar bila mengatakan bahwa kita harus menunggu hasil resmi dalam waktu sepuluh hari lagi)

P S : One moment….


(PS : Tunggu dulu….)

BS : Let me just ask you why you are so sure that you think you will win?
(BS : Saya mau tanya kenapa Anda demikian yakin Anda akan menang?)

P S: Yes….yes… No, no excuse me ….excuse me ….excuse me…..excuse me. Can I finish? All the survey companies that you mentioned they are commercial companies. They are commercial companies. I can bring you 16 survey companies that put me ahead. So I don’t think it is really fair to use those three or four companies as reference point)


(PS : Ya….ya, tidak, tidak maaf…..maaf….maaf. Bisa saya selesaikan dulu? Semua perusahaan survei yang Anda sebutkan tadi adalah perusahaan komersial. Mereka perusahaan komersial. Saya bisa tunjukkan 16 perusahaan survai yang mengunggulkan saya. Jadi saya kira tidak fair kalau menggunakan tiga atau empat perusahaan survai itu sebagai acuan)

BS : Let’s talk about your style of politics compared to your rival Joko Widodo who is seen as a man of the people appealing to the will of people of Indonesia. He seems to have done particularly well in addressing the voter community that you have not been able to approach. Many saying that your politics is traditional and conservative to establishment. Do you think that will cost you votes in this election?

 
(BS : Mari kita bahasa gaya politik Anda dibanding dengan rival Anda Joko Widodo yang dianggap sebagai cerminan rakyat yang berpihak pada kehendak rakyat Indonesia. Ia tampaknya telah sukses terutama dalam mendekati kelompok pemilih yang selama ini tidak mampu Anda dekati. Banyak orang bilang politik Anda itu tradisional dan konservatif terhadap status quo. Menurut Anda apakah ini mengurangi suara Anda?

PS : No no no no. That is a perception that the other side has concocted. It’s a complete concoction. I think my rival is a product of PR campaign; completely the other side; he is actually a tool of the oligarch and I don’t think that’s the correct picture. He is not a man of the people. He claims to be humble but that’s just an act. In my opinion that’s just an act.


(PS : Tidak …tidak….tidak…tidak. Itu adalah persepsi yang hasil rekayasa kubu sebelah. Menurut saya, rival saya adalah produk kampanye public relations; sangat kebalikannya; ia adalah alat oligarki, dan menurut saya bukan begitu gambaran dia. Ia bukan orang yang memihak rakyat. Ia menyebut dirinya bersahaja, tapi itu cuma pura-pura. Menurut saya itu cuma pura-pura)

BS: He just shows clean reputation and his campaign has not been played unlike yours…..

(BS: Ia punya reputasi yang bersih dan kampanyenya tidak seperti kampanye Anda….)

P S: Clean? ….Clean?

(PS : Bersih?….Bersih?)

BS : Unlike yours…

(BS : Tidak seperti kampanye Anda….)

PS: Clean? ……Clean?

(PS : Bersih?….Bersih?)


BS: ……by allegations of human rights abuses committed under the Suharto regime. And If I can just remind of you is the unit that you commanded in 1998 accused of kidnapping torturing and killing activists who protested at that time against Suharto. How do you think you can now be seen as a reputable clean politician who can lead the country when you think about the result in ten days time?

 
(BS : …… dengan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang Anda lakukan di bawah regim Suharto. Dan bolehlah saya ingatkan bahwa unit yang Anda komandani dituduh melalukan penculikan, penyiksaan dan pembunuhan sejumlah aktivits yang melawan Suharto saat itu. Bagaimana Anda bisa berpikir bahwa Anda sekarang dipandang sebagai politisi bersih yang bisa memimpin negeri ini terkait dengan hasil pemilihan 10 hari lagi?)

PS: You know …..you know every time I get a lot of supports in the polls of these accusations in the wind of deformation of character come up. This is my third general election I am now leading the third largest party of the 4th largest country in the world. Indonesia is the 4th largest country in the world. We are 250 million people. We are the size of Europe. And I am leading the 3rd largest party and now I am leading a coalition which represents nearly 2/3 of Indonesian voters. How …..how do ….2/3 of the Indonesian people; how can they be fool how can they be so stupid to be….to….to support someone who is what all my rivals accused me of being.

(PS : Anda tahu….Anda tahu setiap kali saya dapat dukungan, maka tuduhan-tuduhan ini dalam bentuk perusakan karakter selalu muncul. Ini pemilu ketiga saya dan saya saat ini memimpin partai terbesar ketiga dari negara terbesar ke-4 di dunia. Indonesia adalah negara ke-4 terbesar di dunia. Kami ini punya 250 juta pendidik. Kami ini seukuran Eropa. Dan saya memimpin partai ketiga terbesar dan saya juga memimpin sebuah koalisi yang mewakili 2/3 pemilih Indonesia. Bagaimana….bagaimana mungkin 2/3 rakyat Indonesia bisa demikian dungu, demikian bodoh untuk mendukung seseorang yang seperti dituduhkan rival saya?)

BS : Do you hope…do you…know….

(BS : Apakah Anda berharap….Anda tahu…)

PS: So….its’ completely deformation of character…

(PS : Jadi….itu benar-benar perusakan karakter…..)

BS: Do you think that it‘s about time that you address what happened and these allegations directly?

(BS : Menurut Anda apakah ini saatnya Anda membeberkan apa yang terjadi dan mengklarifikasi tuduhan-tuduhan itu secara langsung?)


PS : Oh I have, many-many many times, on records on tapes, on …..I think anybody, any foreign press who interviewed me they will always ask me about the human rights allegation. You know this… this is the story for the last 16 years.

(PS : Oh, sudah! Sudah banyak kami, lewat berbagai rekaman. Saya pikir setiap orang, semua pers asing yang mewawancari saya selalu bertanya tentang tuduhan hak asasi itu. Anda tahulah…ini cerita yang sudah berlangsung 16 tahun)

BS : But it keeps coming up….with all your respects it keeps coming up.

(BS : Tapi pertanyaan itu kan muncul terus, mohon perhatian, muncul terus)

PS : I am, nothing look. Yes ….it keeps….it keeps ….it keeps.

(PS : saya…..tidak ada apa-apa …..sebentar. Memang muncul terus…..muncul terus….)

BS : It keeps coming up, years after years, how do you, how are you going to be able to put that away from where you stand today?

(BS : Muncul terus dari tahun ke tahun, bagaimana Anda akan menyikapi masalah ini dari posisi Anda sekarang ini?)


PS : It keeps coming up it keeps coming up by my enemies by my rival it’s part of the games of politics.

(PS : Memang muncul terus, dimunculkan oleh musuh-musuh saya, rival saya sebagai bagian dari permainan politik)

BS: (tidak terdengar karena tertumpuk suara Prabowo)……….answer the questions leveled to you about the allegation?
(BS : ……………menjawab pertanyaan tentang tuduhan itu yang dilontarkan pada Anda? )

PS: I have answered, many-many times, on records. I am a free man. I have never been indicted of anything. This is just a political campaign to destroy….to destroy me because they do not like what I stand for. I stand for a clean Indonesia. I stand for justice for my people. I stand for a fair deal for Indonesian people. They have always been lied to, they have always been considered stupid, Indonesians are considered stupid, lazy people, this is the old time colonialist perception that that want to pin to Indonesian people, that all the Oligarch take all the money. I beg your pardon…I beg your pardon.

(PS : Sudah saya jawab berkali-kali, di berbagai rekaman. Saya ini orang bebas. Saya tidak pernah didakwa pengadilan. Ini kampanye politik untuk menghancurkan saya karena mereka tidak suka apa yang saya perjuangkan. Saya memperjuangkan Indonesia yang bersih. Saya memperjuangkan keadilan bagi rakyat saya. Saya memperjuangkan pemerataan bagi rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia selama ini dibohongi, dianggap bodoh. Orang Indonesia dianggap bodoh, malas. Ini merupakan persepsi jaman penjajahan yang dilabelkan pada orang Indonesia. Itu yang Oligarki…..ambil semua uang, maaf…..maaf.

BS : My apology for interrupting….when the results are announced on July 21 and 22. If they show that your rival that Joko Widodo has won. Will you graciously accept that as a will of the Indonesian people?

(BS : Maaf saya menyela….kalau nanti hasil pemipilan diumumkan pada Juli 21 dan 22. Jika mereka menyatakan bahwa rival Anda Joko Widodo menang. Apakah Anda dengan legowo menerima ini sebagai kehendak rakyat Indonesia?)

PS : That is part of democracy. If he is certified winning fair… fairly of course I will concede. But I am very confident all the real count coming in shows I am leading. And as of yesterday, with 60% of the real count coming in, I am leading, so I am very confident we are the ones who got the mandate.

(PS : Ini bagian dari demokrasi. Jika ia secara sah dan adil memang, tentu saja saja akan akui. Akan tetapi saya yakin bahwa real count yang masuk menunjukkan saya unggul. Kemarin saja, dengan 60% real count masuk, saya sudah unggul, jadi saya yakin kamilah yang akan dapat mandat)

BS : What would your message be to your supporters because there are a growing number of concerns regarding perhaps process on the street so even violent should the result not go your way. I mean what is your message to them now?

(BS : Kira-kira apa pesan Anda pada para pendukung Anda karena sekarang ini ada peningkatan kekuatiran yang mungkin berkaitan dengan kekerasan yang bakal terjadi di jalanan jika hasil pemilihan tidak seperti yang Anda kira. Maksud saya, apa pesan Anda untuk mereka?)

PS : Do you know that err …the….the one of the television stations that supported me they have been attacked and two of the stations have been attacked, vandalized, do you know that the polling company that predicted that I won they were attacked last night by molotov bomb, so where does the violence come from ? Where does the intimidation come from? I got many reports….


(PS : Anda tahu satu dari stasiun televisi yang mendukung saya telah diserang, menjadi korban vandalism, Anda tahu juga bahwa perusahaan survey yang menggunggulkan saya diserang dengan bomb molotov semalam. Jadi dari mana asalnya kekerasan ini? Dari mana asalnya intimidasi ini? Saya banyak dilapori…..)

BS : What is your message to your supporters?

(BS : Apa pesan Anda untuk para pendukung Anda? )

PS : I got many reports from my supporters that they have been intimidated, they have been attacked in many-many parts of Indonesia. So my message is, I have said that on records you can check, always-always, I’ve said many times, keep calm, be cool, our rivals are our brothers, they are not enemies, all my speeches. And not one speech from my rival saying the same thing, not one. I have said that if the election commission certify the real will of the people, I will honor the decision. They have not said that, they have not said one time during the entire campaigns. I think I have made 10 or 15 statements on national televisions during the presidential debates and every events hundreds of millions people have seen this. And from my rival not one time a statement that they will honor the decision of the Indonesian people.

(PS : Saya banyak dilapori oleh pendukung-pendukung saya bahwa mereka telah diintimidasi, diserang di banyak sekali bagian Indonesia. Pesan saya, seperti yang sudah sering saya sampaikan dalam berbagai rekaman, Anda bisa cek, sudah saya katakan berkali-kali: jaga ketenangan, tetaplah adem; rival-rival kita adalah saudara-saudara kita juga, begitu bunyi pidato saya. Dan tak satupun dari pidato rival saya yang menyampaian hal seperti ini, tak satupun. Saya sudah katakan bila KPU sudah menetapkan pemenang, saya akan menghormati keputusan itu. Mereka tidak mengucapkan ini, tidak sekalipun selama keseluruhan kampanye. Saya pikir saya sudah buat 10 sampai 15 pernyataan di televisi nasional selama debat-debat presiden dan di banyak events, ratusan juta orang telah menonton ini. Dari dari rival saya tidak satupun ada pernyataan yang mengatakan bahwa mereka akan menghormati keputusan rakyat Indonesia.)

BS : Okay…

(BS : Baiklah…)

PS : In fact there is an announcement that if Prabowo wins that’s cheating event before the real count comes in. So I am just asking you who is ….
(PS : Malah ada pernyataan bahwa bila Prabowo menang, itu curang, ini bahkan sebelum real count masuk. Jadi, saya balik tanya siapa yang…..)

BS : I just want to ask you a final question, Sir. What will you do if you do not win?

(BS : Pertanyaan terakhir, Pak. Apa yang akan Anda lakukan bila tidak menang?)

PS : What? I am very confident I win, but you know I …if the Indonesian people do not need me, I am fine, I have a good quality of life. I’d like to go back to my life, in fact it’s a quiet life out of politics. I am doing this out of my obligation to serve my people.

(PS : Apa? Saya yakin saya menang, tapi, Anda tahu….jika rakyat Indonesia tidak memerlukan saya, saya tidak apa-apa. Saya punya kehidupan yang berkualitas. Saya akan kembali ke kehidupan saya, kehidupan tenang di luar politik. Saya melakukan ini karena kewajiban saya untuk melayani bangsa saya)


Sumber : www.intriknews.com

Rabu, 25 Juni 2014

Syarat Jokowi Jadi Capres RI

0 komentar
Hari – hari Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo selalu dipenuhi aktifitas politik, bukan pemerintahan atau pelayanan terhadap warga Jakarta yang telah memilihnya sebagai pemimpin pada Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu.
Sejak dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 15 Oktober 2012 lalu, prioritas utama Joko Widodo alias Jokowi adalah sebagai berikut :
  1. Meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya sebagai salah satu calon presiden yang akan bertarung dalam pilpres 9 Juli 2014. Semua cara dilakukan agar media – media bayaran, milik cukong dan mafia cina, termasuk media asing dapat bahan liputan mengenai Jokowi.
Semua program utama Pemda DKI Jakarta ditujukan dan disinkronkan untuk mempertahankan, meningkatkan dan mengejar popularitas Jokowi sebagai bakal capres.
Akibat dari penyusunan prioritas yang salah dan melanggar etika, hukum dan kepatutan ini, rakyat Jakarta mengalami kerugian besar, diantaranya : penurunan tingkat kualitas pelayanan birokrasi dan pemerintah daerah, penyerapan APBD DKI Jakarta anjlok ke titik terendah yang tidak pernah terjadi sebelumnya, yakni di bawah 70% saja.
Rencana peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) gagal diwujudkan, meski Pemda DKI telah menaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 20% sampai 140%. Seharusnya, PAD DKI Jakarta yang utamanya bersumber dari PBB, dapat meningkat di atas 30%.
Tingkat korupsi di lingkungan Pemda DKI Jakarta naik tajam. Sedikitnya sudah 24 PNS Pemda DKI Jakarta yang ditangkap aparat hukum karena sangkaan korupsi. Sebagian besar diantaranya adalah pejabat yang lulus dalam lelang jabatan yang dipromosikan Jokowi Ahok.
Sebagian besar program Dinas Pariwisata DKI Jakarta disinkronkan dengan maksud dan tujuan pribadi bersifat politis untuk mengejar popularitas Jokowi pribadi semata – mata, antara lain : Festival Keraton Sedunia (juga dituding ada muatan korupsi bermoduskan mark up Rp. 20 miliar), Jakarta Kuliner, Jakarta Karnaval dan seterusnya. Total anggaran Dinas Pariwisata DKI Jakarta tahun 2013 Rp. 603 miliar, 70% diantaranya untuk kegiatan tak jelas yang terkait dengan kepentingan Jokowi.
  1. Jokowi memprioritas tugas dan jabatannya selaku bakal calon presiden dengan meninggalkan kewajiban dan tanggung jawabnya selaku Gubernur Jakarta. Sibuk kampanye kemana – mana sampai ke Papua, seolah – olah pekerjaan sebagai gubernur adalah sampingan belaka dan waktu luangnya begitu banyak tersedia. Akibatnya, Jakarta terlantar, program kerja tak berjalan, serapan APBD rendah, korupsi meningkat, pertumbuhan ekonomi Jakarta menurun dari 6.53% pada tahun 2012 menjadi hanya 6.11% pada tahun 2013.
  2. Jokowi utamakan partai dan ambisi pribadi, melupakan amanah dan penderitaan rakyat Jakarta. Lupa bahwa dia dipilih untuk melayani rakyat Jakarta, bukan menjadi banci kamera, gila pemberitaan media, menghambur-hamburkan APBD yang dipungut dari keringat rakyat Jakarta, hanya untuk kepentingan pribadinya belaka. Jokowi adalah manusia tidak tahu diri, khianat dan selayaknya dikutuk menjadi batu, dipajang tubuhnya di lapangan monas agar dapat disaksikan jutaan rakyat Jakarta, sebagai simbol pemimpin penipu, munafik dan tak berguna.
  3. Jokowi memprioritaskan balas jasa kepada para cukong majikannya yang telah mengantarkannya menjadi gubernur Jakarta, dengan segala tipu daya dan selanjutnya akan menjadikannya sebagai calon presiden Indonesia. Balas jasa itu diberikan Jokowi melalui proyek – proyek pemda DKI, baik dibiayai dari APBD DKI maupun proyek non APBD.
Proyek pengadaan Bus Reguler dan Non Reguler Trans Jakarta senilai Rp. 1.5 triliun dia berikan kepada mantan timsesnya Michael Bimo Putranto. Alhamdulillah sukses dikorupsi mereka bersama – sama.
Proyek MRT dan Monorel diserahkannya kepada Edward Suryajaya yang telah menjadikannya walikota boneka, gubernur boneka dan nanti presiden boneka. Proyek MRT dan Monorel senilai belasan triliun rupiah itu, alhmdulillah tidak ada progresnya hingga sekarang alias mangkrak bin macet akibat Jokowi brengsek tak tahu diri dan tak tahu diuntung itu.
Cukuplan sudah korupsi videotron, renovasi pasar, hibah KONI, penjualan hotel Maliyawan, renovasi THR Sriwedari, pengadaan mobil dinas ESEMKA, korupsi anggaran perjalanan dinas, korupsi dana bansos, hibah BPPMKS dan seterusnya yang dilakukan Jokowi semasa jadi walikota Solo. Jangan terulang lagi di Jakarta dengan skala lebih luas dan kerugian negara yang jauh lebih besar.
Syarat Jokowi jadi calon presiden RI tidak banyak.
Syarat Jokowi jadi calon presiden RI hanya satu saja.
Syarat Jokowi jadi calon presiden RI adalah jika Jokowi sudah merasa mampu menipu dan nekad menganggap bodoh seluruh rakyat Indonesia !
sumber : yudisamara.com

Selasa, 24 Juni 2014

Bukti Kebohongan Jokowi Pada Program KJS

0 komentar
BEROBAT DI PUSKESMAS DI JAKARTA GRATIS? ADALAH BOHONG!
Kebohongan Jokowi


Ya Allah, Tega nian Gubernur Jokowi Menipu Rakyatnya. Siapa bilang dengan KJS (Kartu Jakarta Sehat) boleh berobat gratis? Buktinya tadi pagi saya & anak saya berobat di Poli Mata di Puskesmas Kec.Cilincing Jakarta Utara, bayar!
Memang bayarnya sih murah, Rp 15.000,- per Orang. Itu kalau lagi pas si pasien punya uang/ bawa uang.Di ruang tunggu loket, saya yg mendapat nomer antrian 90 melihat kenyataan yg memilukan. Apa itu? Seorang bapak tua, aki-aki asli Betawi, memakai kos bergambar Jokowi sedang marah2 di loket.
“Gile lu. Katanya pake KJS berobat Gratis!”
“Maaf pak, itu bukan kebijakan kami (pengelola Puskesmas maksudnya), itu kebijakan Pemda DKI (Gubernur Jokowi maksudnya).”
Mana bapak tua itu tahu kalau sejak Januari 2014 lalu berobat di Puskesmas sudah tidak gratis lagi alias bayar!
Celakanya, karena dulu dan bahkan tadi malam Jokowi berkoar-koar di TV , di DEBAT CAPRES, yang ditonton oleh Jutaan Rakyat Indonesia, katanya dengan kartu ini penduduk Indonesia yg kurang mampu BISA BEROBAT GRATIS, lagi-2 dia klaim seperti di Jakarta (dengan Sistem KJS). Buktinya? BOHONG!!
Si bapak tua tadi, marah2 lantaran di dompetnya cuma ada uang Rp 7.000,-, sedangkan tarif yg wajib dia bayar Rp 15.000,-! Yang membuat si bapak tua itu kesal, pihak Puskesmas Kelurahan Rorotan, tempat di mana dia tinggal, karena tidak ada poli mata, menyarankan si bapak tua tadi untuk berobat di Puskesmas Kecamatan.
Tadi malam si bapak tua itu rupanya juga nonton DEBAT CAPRES, dan dia dulu pernah berobat gratis pake KJS, maka dia berani datang berobat mata ke Puskesmas tingkat kecamatan. Perlu anda ketahui, si bapak tua itu untuk menuju Puskesmas tersebut dari rumahnya di wilayah Rorotan mengeluarkan ongkos Rp 7.000,- (dua kali naik angkot, KWK 05; Rp 4.000 + Rp 3.000). Nah, hari itu si bapak tua punya uang hanya Rp 30.000,-. Maka dia membawa Rp 14.000 pas tuk sekedar ongkos angkot ke puskesmas PP, sisanya tuk belanja Istrinya di rumah.
Ibu-2 yg berjilbab lebar melerai bapak tua yg marah2 itu. Dan dia membayarkan tarif Poli Mata si bapak berkaos bergambar Jokowi, agar tidak ada keributan di puskesmas.
“Gua Sumpahin Jokowi Belangsak! Tega2nya nipu rakyat miskin! Gua jijik pake kaos ini. Ntar dirumah kaos ini gua bakar, biar tetangga pada tahu kelakuan Jokowi. Bacot doang gede…”
Ketika saya & anak saya menunggu di depan ruang Poli Mata, banyak pasien mengeluh; “Katanya gratis. Koq ini bayar..”
Setelah saya & anak saya diperiksa mata oleh dokter, lalu dikasih masing2 dua lembar resep. “Yang ini obatnya silahkan diambil di ruang obat. Sedangkan yg ini karena stok obatnya tidak ada, harap dibeli di apotik pak..” Ujar dokter.
Saya sih gak keberatan, karena saya alhamdulillah punya uang. Lah, si bapak tua berkoas gambar Jokowi tadi, gimana mau beli obat di apotik? Uangnya saja cuma Rp 7.000, itu pun untuk ongkos pulang ke rumahnya. Tadi aja, untung ada ibu2 berjilbab lebar yg baik hati, yg mau bayarin tarif Poli Mata si bapak.
Saudara-saudari ku sebangsa setanah air. Tadi saja, saya dibonceng naik motor oleh istri, keliling mencari apotik tuk nebus resep. Sudah tiga apotik yg kami datangi tidak ada obat yg dimaksud dalam resep dokter. Dan baru ada di apotik yg keempat yg kami datangi. Kami menebus obat yg sama namun beda merk, itupun setelah dokter yg kebetulan ada di apotek tersebut memberikan penjelasan, bahwa isi kandungan obatnya sama.
Sontak terpikirlah olehku bagaimana nasib si bapak tua tadi.
“Ya Allah, Jangan Kau Hinakan Bangsa Kami dengan Pemimpin Yang Menipu Rakyatnya. Ya, Alloh Kasihanilah kami. Berilah kami Pemimpin Yg Tidak Suka Berbohong. Amin.”

Keblingernya Pembenaran Dalam Budaya Anti Kritik

0 komentar
Bismillah …
Awalnya tidak ada keinginan dari saya menulis di blog untuk merespon ucapan Pak Jokowi tentang “panggil programmer, 2 minggu selesai” dalam debat perdana capres-cawapres. Karena saya yang cukup lama bergelut di dunia pembangunan aplikasi e-Government, meng-apresiasi program Pak Jokowi tentang sistem informasi untuk pengelolaan pemerintahan pusat dan daerah. Namun, alangkah sedih rasanya ketika membaca sebuah berita online tentang Kelompok Pendukung Jokowi yang berusaha melakukan pembenaran atas ucapan capres-nya tersebut. Karyanya cukup positif, namun cara penyampaian tujuan karyanya ke publik saya rasa menyesatkan. Disadari atau tidak, ini sama dengan membangun budaya anti kritik. Oleh karena itu, saya tergelitik untuk meluruskannya dalam blog ini.
Sila simak baik-baik berita di bawah ini:
Buktikan Janji Jokowi Bidang IT, Aplikasi Smartphone Diluncurkan. [Liputan6, 12/6/2014]
Sebagian kutipan dalam berita tersebut:
Pada debat perdana capres dan cawapres Senin 9 Juni lalu, capres Joko Widodo menyatakan, proyek IT untuk program pemerintah dapat diselesaikan dalam waktu 2 minggu oleh programmer. Hal ini berusaha dibuktikan oleh relawan Jokowi-JK yang tergabung dalam Rumah Koalisi Indonesia Hebat, dengan membuat sebuah aplikasi dalam waktu 24 jam. Hasilnya, sebuah aplikasi mobile bernama ‘Joko Widodo RI-1′ kini tersedia di Apple AppStore.

Aplikasi itu disediakan untuk warga yang ingin mengenal figur Jokowi. Aplikasi itu berisi referensi multimedia, fitur aspirasi, dan quiz. Salah satu fitur yang menarik adalah fitur ‘Your Voice’, untuk menyampaikan aspirasi harapan warga apabila Jokowi terpilih sebagai presiden dalam pilpres 9 Juli nanti.

Bagaimana menurut Anda? :)

Saya yakin mereka yang bergelut di bidang pemrograman, yang membuat aplikasi tersebut paham apa itu e-Government. Mereka orang yang teredukasi. Namun, bila kemudian menganggap aplikasi mobile tersebut adalah e-Government itu sama dengan keblinger demi sebuah pembenaran. Mereka pasti tahu bahwa e-Government itu banyak ruang lingkupnya terkait dengan proses interaksi pelayanan publik dan transparansinya. Semoga mereka sadar untuk tidak terbiasa memanfaatkan keawaman publik demi tujuan politik.
Tim Rumah Koalisi Indonesia Hebat akan sangat bijak bila dalam me-launching aplikasi mobile ‘Joko Widodo RI-1′ itu tanpa embel-embel: “membuktikan janji Jokowi bidang IT”. STOP pembodohan publik!
E-government adalah penggunaan teknologi digital untuk mentransformasi kegiatan pemerintah yang bertujuan meningkatkan efektivitas, efisiensi, kenyamanan, serta aksesibilitas yang lebih baik atas pelayanan publik. Sehingga manfaat yang didapat antara lain:
  1. Meningkatkan pelayanan pemerintah kepada warganya.
  2. Mempercepat proses pelaporan saat dibutuhkan oleh setiap pengambil keputusan.
  3. Meningkatkan akurasi data dan relevansi informasi.
  4. Meningkatkan interaksi dengan dunia usaha.
  5. Meningkatkan transparansi pelaksanaan tugas pemerintahan.
  6. Meningkatkan efektifitas administrasi sehingga berpeluang dalam meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah).
  7. Memberdayakan masyarakat melalui distribusi informasi dan transparansi.
  8. Tersedianya database provinsi / kabupaten / kota yang up to date.
Nah… apakah aplikasi yang dibuat oleh Rumah Koalisi Indonesia Hebat tersebut mampu menjawab manfaat-manfaat tersebut di atas?
Saya yakin… Tidak. Karena aplikasi tersebut hanya fitur informasi capres. Maka tidak layak menyampaikan informasi ke publik bahwa mereka telahmembuktikan janji Jokowi di Bidang IT, karena ruang lingkupnya beda jauh dengan yang dipaparkan Pak Jokowi dalam debat capres.
Saat debat perdana capres-cawapres, alangkah bijak bila Pak Jokowi tidak menyebut soal “panggil programmer, 2 minggu selesai”. Saya memakluminya, mungkin saja beliau terpeleset ucapan karena saking semangatnya, atau nervous disaksikan banyak orang, atau karena faktor ini.
Baiklah, yang melewatkan debat perdana capres dan cawapres, silakan simak video singkat di bawah ini:


Dalam debat perdana tersebut, Pak Jokowi menyampaikan bahwa e-government, terdiri dari e-procurement, e-budgeting, e-catalog dan e-audit sudah diterapkan semuanya di Pemda DKI. Yang memahami betapa pentingnya proses otomasi dan transparansi di lembaga pemerintahan, pasti akan mengapresiasi langkah ini.
Namun, sejatinya Pemprov DKI masih mempunyai PR besar dalam penerapannya hingga saat ini. Mari kita evaluasi satu per satu sistem informasi yang disebutkan Pak Jokowi dalam debat perdana tersebut:
  1. e-BudgetingPR besarnya: Anggaran Ganda pada APBD tahun 2014 mencapai 6 Triliun [Kompas], bahkan bisa saja bertambah besar, diprediksi mencapai 10 Triliun. [Gatra].
  2. e-ProcurementPR besarnya: Kasus Mark Up Pengadaan Bus Transjakarta senilai Rp 1,5 Triliun yang dinilai lemah dalam proses pengadaannya, dimana ada kawan separtai Pak Jokowi dan menjadi timsesnya turut bermain. [Tempo].
  3. e-CatalogPR besarnya: Serapan anggaran Pemprov DKI hingga 16 Mei 2014 baru mencapai 8 persen. Maka penggunaan sistem online ini harus segera di-evaluasi, mengapa sampai dirasa menghambat proses lelang proyek terkait program kerja pemprov DKI Jakarta. [Tempo].
  4. e-Audit. Pemprov DKI Jakarta mendapatkan pengakuan dari BPK sebagai provinsi pertama di Indonesia yang menggunakan transaksi keuangan berbasis electronic audit (e-Audit). Hal ini memudahkan BPK dalam memantau segala bentuk penggunaan anggaran, sehingga akan tercipta transparansi penggunaan anggaran. PR besarnya: Pemprov DKI sampai saat ini belum juga memajang rincian APBD DKI Jakarta 2014. Padahal APBD sudah disetujui DPRD DKI Jakarta pada tanggal 22 Januari 2014 lalu. Dan ICW pun sudah mengingatkannya bulan Mei lalu.[Viva News].
Itulah PR besar sebagian dari program e-Government di Pemprov DKI Jakarta, sebagai bukti bahwa sesungguhnya secara implementasi belum sempurna mencegah penyimpangan proses pengelolaan pemerintah daerah tersebut. Perlu manajemen pengawasan dan disiplin eksekusi yang baik agar semua pihak merasakan manfaat dari program e-Government. Adalah terlalu prematur bila masih ada PR besar itu disebut sebagai keberhasilan implementasi, apalagi sampai menggampangkan bahwa urusan bisa kelar dalam 2 minggu oleh programmer. Karena faktanya belum pernah ada aplikasi e-Government yang dibangun dalam waktu 2 minggu.
Selain 4 program / sistem informasi di atas, masih banyak program lainnya dalam lingkup e-Government, seperti e-Filing pembayaran pajak, e-KTP, e-SAMSAT, dll sesuai jenisnya apakah Government-to-Citizen (G2C), Government-to-Business (G2B), atau Government-to-Government (G2G). Dari sini saja terlihat bahwa, e-Government itu untuk sistem yang mencakup seluruh aspek di Indonesia, dan harus terintegrasi satu sama lain dan dapat disaksikan seluruh masyarakat secara transparan dan real time.
.
Lantas, berapa lama idealnya selesai membangun aplikasi e-Government?
Begini … seandainya Anda di posisi Project Manager, coba bikin simulasi work breakdown structure untuk langkah-langkah proyek berikut ini.
Pertama:
Memastikan bahwa dokumen user requirement sudah lengkap dan ditandatangani pejabat negara yang berkepentingan. User requirement itu biasanya dituangkan dalam bentuk Kerangka Acuan Kerja (KAK).
Kedua:
Karena e-Government bukan proyek ecek-ecek, maka bentuklah tim dengan SDM yang terbaik untuk menghasilkan aplikasi dengan kualitas terbaik, yang terdiri dari:
- Tim Process Analyst: menyiapkan Business Process & System Analysis;
- Tim Analyst: DataBase dan System Analyst;
- Tim Designer: Web dan User Interface Designer;
- Tim Copy Writer: untuk merancang keterangan, error message, dan respon yang akan diterima pengguna, sehingga mudah dipahami;
- Tim Developer: Web dan DataBase Developer;
- Tim Tester: Functional, Integrator, Security, Stress, Regression, dan Unit Tester;
- Tim Administrator: DataBase, System dan Network Administrator;
- Tim User untuk usability testing.
Besarnya tim tergantung Cost (biaya development), Time (target penyelesaian), and Scope (lingkup sistem yang akan didevelop).
Ketiga:
Memastikan kesiapan infrastruktur kebutuhan internal yang meliputi software dan hardware. Jaringan antar PC, server, baik untuk developer, tester, sampai ke user, sudah tersetup. Semua sistem pendukung sudah terinstal. Termasuk teknologi untuk disaster recovery system.
Kemudian juga memastikan kesiapan infrastruktur kebutuhan eksternal (pihak pengguna). Jangan sampai aplikasi yang dibangun tidak bisa jalan dengan baik di sisi pengguna. Di sinilah perlunya System Architecture yang benar-benar jelas. Idealnya mempunyai data center sendiri dengan server-server yang mampu menangani proses transaksi data besar.
Keempat:
Tim Process Analyst dalam menyiapkan Business Process & System Analysis (BPSA) harus benar-benar lengkap dalam menjabarkan user requirementsebelum diserahkan kepada Tim Developer (programmer), yang mencakup:
- Mock up (desain tampilan yang akan digunakan oleh pengguna);
- Desain input / entry yang akan dipakai (tipe data, korelasi antar input, besar maksimum input);
- Desain format report yang akan digunakan / dikeluarkan oleh sistem;
- Technical Requirement seperti maksimum waktu loading page, transaksi per detik yang harus bisa ditangani, sistem yang akan terkoneksi dengan sistem yang akan dibangun – plus metode koneksi dan spesifikasi komunikasinya. Ini penting, sebab sistem harus mampu menghandle file (mengelola big data) yang sudah kebanyakan agar tidak lemot saat di-akses.
Dalam proses ini, tim process analyst akan sering berdiskusi dengan pejabat pengguna (user) tentang kondisi saat ini dan kondisi ideal yang akan dibangun. Serta memastikan dasar hukum atau regulasi yang berlaku telah diadopsi dalam rancangan aplikasi tersebut. Segala bentuk laporan cetak dari hasil proses kerja user dikumpulkan oleh tim. Dan yang penting lainnya, menginventarisir masalah-masalah yang dialami user dalam prakteknya (sebelum menggunakan aplikasi atau selama menggunakan aplikasi yang lama).
Kebanyakan produk gagal (tidak bisa dipakai di tengah jalan oleh pengguna) itu disebabkan karena Tim Process Analyst tidak mampu menggali lebih detail kebutuhan pengguna. Padahal programmer membangun aplikasi berdasarkan BPSA yang disusun Tim Process Analyst.
Proses keempat ini tentu butuh waktu yang cukup lama sampai benar-benar rancangan siap. Bila tidak lengkap dan detail, maka ini akan merepotkan programmer. Sekecil apapun perubahan, apalagi pada level tampilan, berpotensi menyebabkan perombakan besar-besaran di bagian back-end system.
Kelima:
Masing-masing programmer harus memegang dokumen BPSA yang sudah divalidasi. Kemudian men-develop modul satu per satu secara serial bila ada kaitan antar modul. Sedangkan yang tidak ada kaitan komponennya bisa dikerjakan secara paralel untuk menghemat waktu.
Selama proses pembangunan aplikasi, Tim Administrator harus standby / siap meng-handle bila terjadi error. Project Manager harus memantau proses development dan memberi masukan ketika ada kesulitan.
Proses kelima ini juga butuh waktu yang cukup panjang, tergantung banyaknya modul.
Keenam:
Tim Tester melakukan pengujian per modul. Setelah diuji, tester memberikan feedback ke programmer untuk dilakukan perbaikan. Bila perbaikan selesai, dilakukan pengujian kembali. Demikian seterusnya sampai benar-benar bug error di-eliminasi secara maksimal, karena nyatanya sulit bisa 100% free error.
Proses keenam juga butuh waktu sampai benar-benar modul-modul tersebut dinyatakan lulus uji dan siap dirilis ke User.
Ketujuh:
Pengujian oleh User. Setelah selesai dan lulus uji, minta user menandatangani form pengujian.
Proses ketujuh ini juga butuh waktu sampai benar-benar semua modul tersebut dinyatakan lulus uji. Kondisi pengujian oleh internal tentu berbeda dengan kondisi pengujian oleh user yang lebih memahami regulasi / kebijakan pemerintah dan apa maunya.
Itulah gambaran singkatnya pembangunan aplikasi, belum termasuk penyiapan modul bantuan, modul pelatihan, pelaksanan pelatihan kepada pengguna, hingga monitoring implementasi dan perbaikan.
Cukup jelas bahwa membangun e-government bukan hanya desain dan coding saja, tapi juga butuh analisis tiap daerah, tiap aspek, penyiapan sarana teknologi, apalagi untuk implementasi di pelosok apakah infrastruktur dan SDM-nya sudah siap. Ingat, kondisi geografis di Indonesia adalah tantangan besar dalam implementasi e-Government. Jadi, semua itu tidak cukup hanya dengan memanggil programmer, dibutuhkan juga orang non IT yang ahli di bidang yang menjadi ruang lingkup.
FOKUS-nya adalah bagaimana program e-Government tersebut bisa diimplementasikan dengan baik oleh user, sehingga bukan program asal jadi yang berpotensi tidak bisa dipakai.
Bukankah aplikasi e-Governement sudah lama ada, jadi gak perlu bikin dari awal, tinggal mengembangkan saja?
Betul, sudah lama ada.
Namun yang perlu Anda ketahui bahwa proses kerja di pemerintahan sifatnya dinamis tergantung peraturan yang baru atau kebijakan pemimpinnya, dengan demikian tentu diikuti dengan perubahan sistem informasi. Kalau perubahannya sedikit, tinggal kustomisasi program yang ada. Namun, tidak demikian bila ada perubahan peraturan yang signifikan, maka proses kustomisasi program akan dibutuhkan effort yang cukup besar pula. Coba deh tanyakan kepada banyak programmer, mana yang menurut mereka lebih sukai, mendevelop dari awal (scratch) atau mengembangkan aplikasi yang sudah ada?
Mayoritas akan menjawab lebih mudah bikin dari awal daripada ngulik/ngoprek sistem yang sudah ada. Mengapa bisa begitu? Cukup panjang bila dijelaskan faktor-faktornya di sini :)
Yang perlu dipahami bahwa teknologi pemrograman akan selalu up to date dari tahun ke tahun. Begitu juga style pemrograman tiap orang berbeda.
.
Tapi ini bisa menjadi menarik lho, bila Kemkominfo melalui ajang lomba INAICTA mau mencoba membuat tantangan bagaimana membuat proyek IT pemerintahan dalam waktu 2 minggu, dengan ruang lingkup aplikasi misalnya tentang transparansi pengelolaan anggaran daerah. Gambaran spesifikasi dari panitia lomba meski tidak detail, sedangkan peserta baru bisa membukanya saat dimulai pelaksanaan lomba. Untuk mendapatkan spesifikasi detailnya, peserta harus kreatif menggali informasi berdasarkan kebijakan / regulasi yang berlaku. Peserta diberi waktu hanya dua minggu untuk membangun aplikasi dengan memanfaatkan resources yang ada.
Kalau sudah terbukti ada pemenangnya, dimana aplikasinya bebas bug error, dan mampu menghasilkan data-data yang akurat dan stabil melalui berbagai pengujian ekstrim, ada alert untuk setiap bentuk penyimpangan, dll… maka barulah valid tentang ungkapan: “Panggil programmer, 2 minggu selesai”. Jangan lupa panggil MURI untuk mencatatkan rekor-nya.

Sumber : Iwan Yuliyanto

Melihat Konsep Dan Gagasan Seorang Pemimpin

0 komentar
Tulisan ini saya tulis sebagai bahan penilaian saya terhadap konsep dan gagasan yang telah diusung oleh calon pemimpin bangsa Indonesia tercinta ini pada debat capres malam ini tgl 15 juni 2014 pukul 20.00 wib. Ada beberapa point yang menarik hati saya pada gagasan yang di usung oleh salah satu calon presiden. Konsep yang membuat saya tertarik adalah gagasan yang diusung pak Prabowo........ kenapa ? Ok, akan saya jelaskan disini.
Gagasan Seorang Pemimpin
1. Langkah pertama adalah mencegah kebocoran APBN ke luar negeri dengan mengelola kekayaan Negara ini sehingga APBN tidak DEFISIT alias SURPLUS.

2. Langkah kedua setelah APBN negara sudah SURPLUS maka negara akan mampu menanamkan investasi untuk pembangunan infrastruktur khususnya industri pertanian tanpa ketergantungan dari modal asing. Kenapa industri pertanian yang di utamakan karena hanya pada sektor pertanian lah daerah - daerah Indonesia yang di luar jawa dapat dikembangkan.... kenapa tidak pada sektor lain selain pertanian, karena pada sektor lain misalnya otomotif ... sektor industri ini sudah dikuasai oleh pihak swasta dan asing dan tersentralisasi atau terpusat di pulau jawa, akan sulit bagi pemerintah dalam 5 tahun mengambil alih sektor otomotif ini. Kenapa harus dengan APBN yang SURPLUS dan tidak dengan modal asing karena jika dengan APBN yang surplus negara akan mampu membiayai pembangunan tersebut tetapi jika dengan bantuan modal asing maka akan terjadi kontrak bisnis dimana pihak pemberi modal pastinya tidak memberikannya secara gratis alias tetap ingin meraup keuntungan ( namanya juga bisnis ) nah jika sudah terjadi kontrak bisnis dengan pemberian modal asing maka akan ada beberapa aset negara yang akan digadaikan sebagai jaminan pinjaman tersebut maka Negara akan selalu tunduk oleh permintaan dan kebijakan swasta ataupun asing......

3. Langkah ketiga setelah mempunyai APBN yang surplus dan mampu membiayai pembangunan infrastruktur maka dengan pembangunan infrastruktur besar2an pada sektor pertanian ini akan dan pastinya menyerap jutaan tenaga kerja dari berbagai daerah..... di sinilah mulai terjadi roda ekonomi masyarakat yang meningkat karena mempunyai penghasilan dari penyerapan tenaga kerja.........

4. Langkah ke empat setelah masyarakat mempunyai penghasilan dan ekonomi yang meningkat maka pola pikir masyarakat akan berubah .... dari yang sebelumnya mempunyai uang hanya terpikir untuk makan, akan berubah menjadi pendidikan sebagai kebutuhan maka mayoritas masyarakat indonesia menjadi masyarakat yang haus akan pendidikan ini akan sangat baik untuk regenerasi selanjutnya.  Setelah menjadi masyarakat generasi terdidik .... maka bangsa Indonesia akan lebih banyak lagi menghasilkan tenaga - tenaga kerja profesional dari berbagai bidang keilmuan.

5. Langkah kelima jika mayoritas masyarakat Indonesia sudah terdidik maka akan dengan sendirinya menyadari bagaimana pentingnya sebuah kesehatan ........ saya yakin jika masyarakat disuruh memilih mau dikasih Kartu sehat atau milih dikasih pekerjaan yang menghasilkan maka saya yakin masyarakat lebih memilih mempunyai pekerjaan daripada mempunyai kartu sehat...... Kartu sehat hanya dapat digunakan jika dalam keadaan sakit .... tapi sebuah pekerjaan akan mampu membuat dirinya mandiri bahkan membantu orang lain ...... ( Lebih baik memberi sebuah kail dan ajari dia memancing daripada memberia dia seekor ikan yang hanya akan dia makan seorang diri ).......Di sinilah bagaimana kita harusnya melihat sebuah gagasan besar yang di ajukan oleh pemimpin untuk Bangsa Indonesia ke depannya bukan malah menggampangkan persoalan tanpa konsep yang jelas......

Ini adalah hasil pemikiran dan logika saya sendiri, jadi mohon maaf jika ada yang tidak sependapat dengan saya ..... karena kepala kita berbeda maka sudah sewajarnya pemikiran kita juga mungkin berbeda dan kita harus bisa menghargai itu. 

Bayangkan Jika kekuatan Industri ini kita gali dan kembangkan : 





 

Laba Laba Kota. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com